Feri Irawan, S.Pd.I : Selamat datang di blog ini. Silahkan browsing dan jangan lupa tinggalkan komentar sobat.

Selasa, 16 Februari 2016

Manajemen Touring Sebagai Sebuah Keharusan

Touring adalah salah satu kegiatan anak motor yang sangat mengasyikkan sekaligus menantang untuk dilakukan. Namun touring tidaklah cukup bermodal semangat yang menggebu-gebu. Ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum, selama dan sesudah touring. Manajemen dalam pengertian umum berarti merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengkoordinasi dan evaluasi kegiatan. Dalam kegiatan touring dapat dibagi menjadi 3 bagian.
Pertama: Kegiatan Perencanaan: terdiri dari Pembentukan Koordinator lapangan dan kepanitiaan kecil yang bertugas mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi mengenai daerah tujuan touring, melakukan survey dan membuat kalkulasi berapa biaya yang harus dikeluarkan seorang anggota club apabila ingin mengikuti kegiatan touring tersebut dan berapa lama perjalanan pulang pergi yang akan ditempuh dalam touring. Hal ini penting karena tiap anggota club dapat memposisikan dirinya apakah dengan spare waktu yang telah direncanakan itu dapat mengikuti kegiatan touring tersebut. Pembentukan korlap ini penting baik buat touring dalam rangka menghadiri anniversay sebuah club motor lain atau acara touring resmi yang diadakan oleh club motor itu sendiri.
Tahap kedua adalah berkoordinasi dengan Ketua Club dan jajarannya untuk dapat menginformasikan dan memprovokasi anggota club bahwa touring ini adalah touring yang menarik dan menantang untuk diikuti. Dalam hal ini biasanya divisi humas mempunyai peranan yang cukup vital untuk menyebarkan informasi secara utuh.
Tahap ketiga adalah melakukan registrasi terhadap anggota-anggota yang ikut dalam kegiatan touring tersebut. Korlap harus mendata masing-masing anggota yang ikut karena tiap anggota mempunyai "jam terbang" yang berbeda-beda dan mengingatkan tiap anggota yang ikut touring untuk mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya.
Motor harus dalam kondisi prima, kondisi fisik biker harus fit, mendapatkan ijin dari keluarga, mempersiapkan barang-barang yang harus dibawa disesuaikan dengan kondisi cuaca dan yang penting juga "isi dompet" harus cukup dalam arti tidak hanya untuk ngisi bensin dan makan tetapi juga untuk iuran saweran biaya bersama dan uang taktis kalo muncul kendala di jalan yang tidak diduga sebelumnya.
Waktu pelaksanaan touring. Setelah semua peserta touring berkumpul di basechamp atau tempat yang ditentukan maka dilakukan briefing dulu sebentar, berdo'a bersama mohon keselamatan dan kelancaran selama perjalanan serta pembagian grup siapa yang menjadi voridjder (paling depan), posisi blocking (tengah) dan sweeper (paling belakang). Penunjukan ini disesuaikan dengan jam terbang masing-masing biker dan memberikan perhatian khusus bagi Ca-ang (calon anggota) yang belum pengalaman. Selama perjalanan harus selalu menjaga ketertiban dan kekompakan bersama. Speed touring disesuaikan dengan kondisi jalan dan idealnya tiap dua jam atau maksimal tiga jam perjalanan harus diselingi istirahat supaya badan tetap bugar. Di lokasi acara yang perlu diperhatikan oleh biker adalah ber"sosialisasi" dengan club motor lainnya. Ada kecenderungan begitu sampai di lokasi acara para biker tetep ngumpul dengan komunitasnya sendiri. Anak biker bilang nggak mau gaul.
Menurut penulis, moment yang paling penting pada saat acara berlangsung adalah mencoba berkenalan, tukar no HP, pin BBM dengan member-member club lain. Hal ini penting karena suatu saat pasti akan bermanfaat pada saat kita melakukan touring melewati daerah teman dari club motor lainnya tersebut. Jangan lupa tukar-tukar emblem, stiker atau bahkan kaos club sebagai tanda persaudaraan. Satu hal yang nggak boleh lupa adalah membawa "semacam trophy club atau piagam ucapan selamat" untuk kenang-kenangan club motor yang mengadakan acara.
Tahap selanjutnya ketika perjalanan pulang, pimpinan rombongan harus mengecek kondisi motor dan orang-orang dalam rombongan, brifieng dan berdo'a bersama. Sekali lagi penulis ingatkan bahwa kekompakan tim, rasa senasib dan tenggang rasa, kesabaran harus selalu dijaga dalam perjalanan. Setelah perjalanan dilalui dengan mulus dan kembali lagi dengan selamat, dilakukan briefing lagi, berdo'a dan tim dibubarkan dengan saling memaafkan apabila ada kejadian-kejadian di jalan yang sempat membuat suasana tidak nyaman dan pelukan keberhasilan.

Tidak lupa dokumentasi selama perjalanan untuk di upload dalam website club, facebook club dan dibuatkan laporannya. Demikianlah sekilas manajemen touring yang bisa penulis bagi kepada para biker lainnya.

Menjadi Member Club Motor Yang Baik

MENJADI MEMBER CLUB MOTOR YANG BAIK

Sebagai seorang anggota club motor, ane ingin berbagi cerita bagaimana menjadi member club yang "dianggap baik". Banyak sekali fenomena-fenomena unik yang terjadi dalam sebuah club motor. Ada club yang terorganisir dengan rapi, taat asas dan anggota club mencapai ratusan orang, ada yang biasa-biasa saja dengan kegiatan yang biasa-biasa saja dengan anggota lima puluhan motor, ada juga yang nampang nama doank dengan anggota yang pas-pasan. Kenapa club bisa seperti itu? jawabannya adalah semua tergantung dari anggota club masing-masing.
Suatu club motor bisa menjadi besar dan hebat bahkan dikenal oleh club motor lainnya kuncinya adalah pada sejauhmana kontribusi dan peranan yang diberikan anggota pada clubnya. Semakin berkualitas anggota club semakin bagus sebuah club. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menjadi anggota club yang baik. Menjadi anggota club yang baik dapat dilihat dari beberapa ukuran dan parameter. Pertama: menjadi anggota aktif dalam arti terdaftar secara resmi sebagai anggota club dan aktif mengikuti semua kegiatan yang diagendakan oleh club, mulai dari kopi darat seminggu sekali, silaturahim ke club motor lainnya, rajin touring baik acara anniversary sebuah club atau acara touring resmi club itu sendiri. Kedua: rajin bayar iuran karena iuran adalah darah bagi suatu club. Sebenarnya bagi seorang member club motor, 5 ribu atau 10 ribu tiap bulan bukanlah jadi masalah apabila dibandingkan dengan royalnya mereka membeli aksesoris tambahan bagi motornya yang mencapai jutaan rupiah. Ketiga: apabila ditunjuk menjadi pengurus maka laksanaknlah tugas dengan sebaik-baiknya dan kreatif inovatif sehingga club menjadi sebuah organisasi yang dinamis dan tidak monoton. Satu hal yang harus dipegang oleh brother-brother semua adalah sebuah prinsip prioritas: Nomor satu adalah keluarga, kedua karir dan pekerjaan, dan yang ketiga baru hobby kita maen motor. Okay bro sekian dulu...
Manfaat positif yang saya dapatkan dari hobby ini adalah mempunyai banyak saudara dari penjuru Barat, Timur, Utara, Selatan Indonesia dan juga bisa mengetahui kendala-kendala dalam permesinan motor. Sedangkan sisi negatif dari hobby ini, banyak waktu yang terbuang apalagi saat touring bisa menghabiskan waktu yang panjang dan pastinya bisa menguras ekonomi.


Jumat, 13 Juni 2014

Apakah AI-Quran itu dan Siapakah Muhammad itu?


Al-Quran adalah firman Allah sebagai sumber utama untuk setiap keyakinan dan ibadah orang Islam. Hal ini merupakan sebuah peraturan untuk semua subjek yang berhubungan dengan manusia, kebijakan, ajaran, ibadah, jual-beli, hukum, dan lain-lain. Akan tetapi yang Paling utama adalah hubungan antara Allah dan makhluk Nya. Pada saat yang sama, al-Quran juga memberikan pedoman dan ajaran secara mendetail tentang kemasyarakatan, bergaul atau berperi laku dengan sesama manusia dan sistem ekonomi secara adil.
Mushaf al-Quran diturunkan kepada Nabi Muham­mad SAW dalam bahasa Arab. Sehingga banyak terjemahan al-Quran, baik yang diterjemahkan ke daiam bahasa Inggris atau bahasa lain. Tidak ada al-Quran lain atau versi lain al-Quran selain al-Quran itu sendiri. Al-Quran tetap eksis hanya dalam bahasa Arab sejak diturunkan.
Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah, Jazirah Arab, tahun 570 M. Ayahnya meninggal sebelum beliau lahir dan sebentar kemudian ibunya juga meninggal. Akhirnya beliau diasuh pamannya, salah satu orang yang dihormati di suku Quraisy. Dia diasuh dalam keadaan buta huruf tidak dapat membaca atau menulis dan tetap dengan keadaan demikian sampai meninggal. Begitu beliau tumbuh dewasa, dia terkenal sebagai seorang yang jujur, terpercaya, dermawan, dan tulus hati. Karena dia orang yang dapat dipercaya, dia mendapat julukan al-Amin.
Nabi Muhammad SAW sangat tafakur dan dia sangat dibenci oleh masyarakat yang menyembah berhala sepanjang dekade. Pada waktu berumur empat puluh tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali dari Allah SWT melalui malaikat Jibril. Wahyu itu berlangsung selama 23 tahun dan terkumpul dalam sebuah mushaf yang terkenal dengan nama al-Quran.
Hadis adalah perkataan Nabi Muhammad SAW yang juga dijadikan sumber kedua. Akan tetapi, pernyataan ini tidak dijadikan susunan kata secara langsung dari Allah. Sesegera mungkin dia mulai menyampaikan al-Quran dan mengajarkan kebenaran yang telah Allah turunkan kepadanya, dia dan pengikutnya yang masih sedikit mendapat penyiksaan dari orang-orang kafir. Penganiayaan itu semakin berat sampai tahun 622 M, dimana Allah memerintahkan mereka untuk berhijrah.
Hijrah ini dari kota Makkah ke kota Madinah, sekitar 400 kilometer ke arah utara. Peristiwa hijrah ini lantas dijadikan sebagai pedoman kalender Hijriah.
Setelah beberapa tahun, Nabi Muhammad SAW dan pengikutnya sanggup untuk kembali ke Makkah di mana mereka memaafkan musuh-musuhnya. Sebelum Nabi Muhammad SAW meninggal pada umur 63 tahun, Islam telah menyebar ke seluruh ke Jazirah Arab. Dan sampai berabad-abad sepeninggainya, Islam telah menyebar ke Barat sampai ke Spanyol dan ke Timur sejauh Cina.
Di antara alasan-alasan mengapa Islam cepat berkembang dan menyebar karena Islam mengajarkan kebenaran dan perdamaian. Islam memiliki keyakinan, mengajarkan, dan merupakan agama tauhid, yaitu yang hanya menyembah satu tuhan, satu-satunya Tuhan yang patut disembah.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh teladan yang memiliki sifat jujur, adil, murah hati, selalu mengasihi, dan pemberani. Dia menghilangkan semua tindak kejahatan dan berusaha sejauh mungkin semata-mata demi agama Allah dan pahala-Nya di akhirat nanti. Semua urusan dan perbuatannya dia sandarkan pada Allah.

Senin, 12 Mei 2014

Hari Itu Aku Wisuda


Alhamdulillah…
Kurang lebih dalam waktu 4 Tahun 7 Bulan, aku menimba ilmu di STAI Al-Haudl Ketapang telah terselesaikan dengan baik. Segala kenangan yang telah kulewati bersama kawan-kawan mahasiswa/i takkan terlupakan dari sanubari, telah terpatri kuat dan mendapat ruang tersendiri di memori di kepalaku.
Pada hari Sabtu, 10 Mei 2014 M bertepatan dengan 10 Rajab 1435 H telah dilaksanakan wisuda STAI Al-Haudl Ketapang Angkatan IX di Aston City Hotel Ketapang. STAI Al-Haudl Ketapang mewisudakan 138 orang Mahasiswa/i dari Kelas Reguler dan Ekstensi. Dari 138 orang mahasiswa/i yang lulus, terdapat 8 orang mahasiswa/i Kelas Reguler dan 4 orang mahasiswa/i Kelas Ekstensi yang lulus dengan predikat IPK “cumlaude”. Saya sendiri  merupakan salah satu dari mahasiswa Kelas Reguler yang lulus dengan IPK 3,61 kategori “cumlaude”.
Bertempat di Aston City Hotel Ketapang, acara wisuda berlangsung dengan khidmat selama 3,5 jam dari pukul 07.30 Wib hingga pukul 11.00 Wib. Acara dimulai dari para wisudawan/wati berserta orang tua/walinya memasuki ruangan, dengan tempat duduk yang telah disediakan sesuai dengan nomor urutan yang telah ditetapkan. Lalu diikuti dengan masuknya Sekretaris Daerah Kab. Ketapang beserta Muspida, Ketua Kopertais Wilayah XI Banjarmasin, Rektor IAIN Antasari Banjarmasin Bapak Prof. DR. H. Akh. Fauzi Aseri, MA., Bapak Prof. DR. H. Kamrani Buseri, M.A., Kepala Kantor Kementrian Agama, Kepala Dinas Pendidikan Kab. Ketapang, Direktur Akfer, Poltek, AMKI, serta pejabat-pejabat lainnya.
Tepat pada pukul 08.00 Wib Ketua STAI Al-Haudl Ketapang, Drs. H. M. Mansyur, M.Si dan Ketua Jurusan Tarbiyah, Drs. Satuki Huddin, M.Si, serta Sekretaris Jurusan Tarbiyah, Puket I, II, III memasuki ruangan upacara senat terbuka. Acara selanjutnya di mulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars dan Hyme STAI Al-Haudl Ketapang, mengheningkan cipta, serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an.
Sidang Rapat Senat Terbuka wisuda pun dibuka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiim oleh Ketua STAI Al-Haudl Ketapang kemudian dilanjutkan dengan laporan perkembangan STAI Al-Haudl Ketapang. Selanjutnya, dilakukan pembacaan SK Wisudawan sekaligus pemindahan tali toga serta penyerahan plakat penghargaan kepada setiap Wisuda Sarjana. Setelah selesai pemindahan tali toga dan penyerahan plakat penghargaan dilanjutkan dengan pembacaan Prasetya Sarjana.
Dipenghujung acara, mahasiswi peraih predikat IPK cumlaude tertinggi dari angkatan IX memberikan kesan dan pesan terhadap STAI Al-Haudl Ketapang dan pesan kepada adik-adik tingkat. Dengan penuh haru beliau menyampaikan rasa terima kasihnya kepada orang tua dan teman-teman seperjuangan STAI Al-Haudl Ketapang.
Acara Sidang Rapat Senat Terbuka wisuda angkatan IX STAI Al-Haudl Ketapang ditutup oleh Ketua STAI Al-Haudl Ketapang. Lalu pemberian ucapan selamat kepada wisudawan/wisudawati. Selanjutnya wisudawan/wisudawati melakukan berfoto bersama dengan Ketua STAI Al-Haudl Ketapang, Ketua Jurusan Tarbiyah, Sekteratis Jurusan Tarbiyah, Puket I, II, III, seluruh dosen serta pejabat akademik lainnya. Setelah selesai berfoto bersama, Ketua STAI Al-Haudl Ketapang, Ketua Jurusan Tarbiyah, Sekteratis Jurusan Tarbiyah, Puket I, II, III, seluruh dosen STAI Al-Haudl serta pejabat-pejabat lainnya meninggalkan ruangan dan naik ke lantai dua untuk makan siang bersama.
Selesainya wisuda disambut dengan gembira oleh para wisudawan/wati, pelemparan topi wisuda ke udara pun mengiringi kemeriahan wisuda STAI Al-Haudl Ketapang angkatan IX. Setelah acara formal, para wisudawan menghabiskan waktu siang dengan berfoto dengan keluarga di sekitar Aston City Hotel Ketapang. Penyedia jasa foto-cetak pun kebagian rezeki, ada yang resmi dari kampus adapula yang perorangan.
Hari itu semua berbahagia, air mata yang menetes juga merupakan air mata bahagia. Orang tua menitikkan air mata melihat anaknya berhasil menyelesaikan studi Strata Satu (S1) selama kurang lebih 4 Tahun 7 Bulan, sang anak pun menitikkan air mata karena telah melewati patih-getir perjuangan selama 4 Tahun 7 Bulan. Pengalaman yang menyenangkan maupun yang menjengkelkan terangkum dalam suasana haru, dibalut kebersamaan sesama mahasiswa.
Memori-memori yang takkan pernah lekang dimakan waktu, walau mungkin saja bakal ada memori-memori baru yang menunggu untuk hadir, tapi tetap perjalanan selama 4 Tahun 7 Bulan  memiliki tempatnya sendiri. Semoga apa-apa yang telah didapat dan dialami dapat diamalkan setelah lulus dari sini, berkontribusi lebih kepada dunia yang akan dihadapi. Jika dahulu kita menggoreskan tinta emas di kampus ini, maka saatnya mengisi lagi relung pena dengan tinta-tinta emas baru untuk digoreskan kembali dikemudian hari.

“Semuanya memiliki awal, dan semua memiliki akhir pula… hanya kata terima kasih yang dapat dipersembahkan dan tertutur do’a untuk kawan seperjuangan


                                                                            By : FERI IRAWAN, S.Pd.I

Minggu, 20 April 2014

Islam Memuliakan Wanita


Islam sering dituding sebagai agama yang tidak memihak wanita karena sebagian aturan-aturannya dianggap mengekang kebebasan kaum wanita. Aturan-aturan Islam ‘klasik' dianggap terlalu maskulin atau male-biased, cenderung bias jender, yang menempatkan wanita pada posisi nomor dua setelah kaum pria. Karenanya, aturan-aturan Islam dianggap tidak relevan dengan kondisi saat ini, karena bertentangan dengan konsep kesetaraan; seperti hukum-hukum yang berkaitan dengan waris, poligami, kepemimpinan laki-laki dalam keluarga, nafkah, pakaian Muslimah; apalagi kepemimpinan laki-laki dalam negara yang jabatan ini memang diharamkan bagi wanita. 

Merebaknya paham sekularisme di tengah-tengah kaum Muslim yang melahirkan kebebasan dan gaya hidup individualis-materialistis rupanya telah memberikan pengaruh besar kepada kaum Muslim dan mengkondisikan mereka untuk menerima apapun yang berbau ‘modern' Wajar jika kemudian, kebahagiaan diukur dengan nilai-nilai yang bersifat duniawi, seperti terpenuhinya sebanyak mungkin kebutuhan jasmani atau sebanyak mungkin materi yang dihasilkan. Akhirnya, para wanita bersaing dengan kaum pria untuk menghasilkan karya dan mendapatkan materi sebanyak-banyaknya sehingga peran wanita sebagai istri dan ibu sering diabaikan dan dianggap tidak berarti, karena tidak dapat memberikan konstribusi secara ekonomi kepada keluarga. 

Para wanita bersaing dengan pria untuk merebut posisi tertinggi dalam suatu pekerjaan, lembaga, bahkan dalam pemerintahan; tanpa mencermati terlebih dulu apakah langkah tersebut diperbolehkan atau tidak oleh Islam. Mereka bangga menjadi seseorang yang mampu memberi konstribusi besar secara materi kepada keluarga. Sebaliknya, mereka nyaris menanggalkan kebanggaannya menjadi seorang Muslimah serta kemuliaannya sebagai istri dan ibu, pengasuh dan pendidik bagi anak-anak dan masyarakatnya.



Bagaimana Islam Memandang Wanita?


Islam merupakan din yang sempurna. Seluruh ajarannya bersumber dari wahyu Ilahi yang tidak akan berubah sampai kapanpun. Allah Swt. telah memberikan aturan-aturan dengan rinci. Dengan aturan-aturan itu, seluruh problem hidup makhluk-Nya dalam situasi dan kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan tanpa ada satu pun yang dirugikan.

Aturan-aturan Islam senantiasa memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, Islam lahir dari Zat Yang menciptakan manusia; Dia Mahatahu atas hakikat makhluk yang diciptakan-Nya. Islam memandang bahwa kebahagiaan dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari materi yang dapatrapan umat; di tangannya pula tergenggam masa depan umat —karena ia adalah tiang negara, yang menentukan tegak atau runtuhnya sebuah negara/masyarakat.

Karenanya, Islam sangat mendorong para wanita untuk senantiasa tanggap terhadap segala sesuatu yang ada di sekelilingnya (sadar politik). Mereka juga terus didorong untuk membekali diri dengan pemahaman Islam sehingga mampu menyelesaikan seluruh problem yang ada di sekelilingnya dengan benar.

Senantiasa tersimpan dalam benak kita, betapa Rasulullah saw. tidak pernah membedakan para wanita dalam mendapatkan ilmu. Rasulullah saw. bahkan menyediakan waktu dan tempat tersendiri untuk kajian kaum wanita atau mengutus orang-orang tertentu untuk mengajari para wanita bersama mahram-nya. 

Sangatlah jelas, bahwa Islam mencerdaskan kaum wanita, karena ia adalah juga bagian dari warga negara sebagaimana kaum pria; keduanya bertanggung jawab untuk membawa umatnya ke keadaan yang lebih baik.



Islam Memuliakan Wanita


Ketika Islam datang ke muka bumi ini dibawa oleh Rasulullah Muhammad saw., sebenarnya telah sangat nyata bahwa Islam meninggikan derajat kaum wanita. Islam mencela dengan keras tradisi Jahiliah, di antaranya mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru dilahirkan atau pewarisan istri ayah kepada anak laki-lakinya. Celaan Islam atas perilaku Jahiliah tersebut menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan dan meninggikan derajat kaum wanita. Allah Swt. berfirman: 


Jika seseorang dari mereka dikabari dengan (kelahiran) anak perempuan, merah-padamlah mukanya, dan ia sangat marah. Ia bersembunyi dari orang banyak disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dan menanggung kehinaan atau menguburkannya ke dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS an-Nahl [16]: 58-59).


Rasul saw. juga bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:


Seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah, “Siapa orang yang paling berhak diperlakukan dengan baik?" Rasul menjawab, “Ibumu, ibumu, ibumu; lalu bapakmu; baru kemudian kepada orang yang lebih dekat dan seterusnya. (HR Muslim).


Dari beberapa hadis di atas dapatlah dipahami, bahwa Islam benar-benar menghargai dan memuliakan kaum hawa. Banyaknya pujian yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya terhadap kaum wanita mengandung makna bahwa Islam meninggikan derajat kaum wanita; sedikitpun tidak menempatkan wanita pada posisi nomor dua setelah laki-laki. Artinya, Islam tidak pernah berlaku tidak adil kepada wanita. 

Ketika Allah dan Rasul-Nya mengharamkan wanita duduk pada jabatan kekuasaan, tidak berarti bahwa Islam menempatkan wanita pada posisi warga negara nomor dua setelah laki-laki. Sebab, dalam pandangan Islam, posisi apapun seseorang, apakah sebagai rakyat ataupun penguasa adalah sama, yang satu tidak lebih tinggi dari yang lain. Keduanya sebagai hamba Allah yang memiliki kewajiban untuk melaksanakan aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing; penguasa sebagai pelaksana aturan-aturan Allah secara langsung, sedangkan rakyat sebagai pengontrol jalannya pemerintahan dan pengoreksi penguasa. 

Adanya perbedaan ini tidak berarti yang satu lebih tinggi atau lebih mulia dari yang lain. Semua ini ditetapkan Allah sesuai dengan fitrahnya masing-masing; semata-mata demi kemaslahatan dan kelanggengan hidup manusia. Sebab, nilai kemuliaan seseorang di mata Allah tidak diukur dari jenis kelaminnya, tetapi karena ketakwaan dan ketundukkanya kepada-Nya. Keberadaan keduanya di dunia ini adalah sebagai makhluk Allah yang saling melengkapi dalam menjalani kehidupan, dengan pembagian peran yang jelas dan seimbang serta tetap mengacu pada aturan yang telah Allah berikan. Dengan itulah manusia, baik pria maupun wanita, dapat meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. 

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. 

Afkar Al-Wa’ie Edisi 54



Najmah Saiidah




Daftar Pustaka
1. Al-Hatimy, Said Abdullah Seif. 1994. Citra Sebuah Identitas; Wanita dalam Perjalanan Sejarah. Surabaya. Risalah Gusti.
2. An-Nabhani, Taqiyyuddin. 1990. An-Nizhâm al-Ijtimâ’i fi al-Islâm. Cet III. Beirut: Darul Ummah.
3. Engineer, Ashgar Ali. 1994. Hak-hak Perempuan dalam Islam. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
4. Ilyas, Yunahar. 1997. Feminisme dalam kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer. Cet I. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
5. Jurnal Perempuan untuk Pencerahan dan Kesetaraan, edisi XII/Nov-Des 1999
6. Rasyid Ridha, Muhammad. Jawaban Islam Terhadap Berbagai Keraguan Seputar Keberadaan Wanita. Pustaka Progessif.
7. Menakar ‘Harga' Perempuan: Eksplorasi Lanjut Atas Hak-hak Reproduksi dalam Islam. 1999. Bandung: Mizan.

Hadits Tentang Sakit dan Mengunjungi Orang Sakit


Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari qiyamat, "Hai.. anak Adam, Aku sakit, tetapi kalian tidak menjengukKU?". "Ya Rabbi bagaimana aku menjenguk padaMu padahal Engkau Robbul Alamin (Tuhan semesta alam). Firman Tuhan : "Apakah anda tidak mengetahui bahwa hambaKu fulan sakit, dan anda tidak menjenguknya, apakah anda tidak mengetahui sekiranya anda menjenguk pada­nya pasti anda mendapatkan Aku padanya (pahalaKu yang tidak terhingga besarnya)". (H.R. Muslim).

Sesungguhnya orang yang menjenguk orang sakit itu akan dinaungi oleh Allah SWT dengan tujuh puluh lima ribu Malaikat. (R. Ath-Thabarani).

Rasulullah SAW bersabda, "Tiga macam, ketiga-tiganya kewajiban tiap muslim; menjenguk orang sakit dan menghadiri janazah, dan mendo'akan orang bersin jika membaca Alhamdulillah. (H.R. Bukhari). 

Jika seorang menjenguk saudara sesama muslim diwaktu pagi maka akan dido'akan oleh tujuh puluh ribu Malaikat hingga sore, dan jika menjenguk diwaktu sore maka akan dido'akan oleh' tujuh puluh ribu Malaikat hingga pagi. (R. Ahmad).


Keterangan

Menjenguk orang sakit itu sangat dianjurkan, bahkan ia sebagai sunnat yang mu'akkad menurut pendapat Jumhur ulama', dan sebagian ulama' Maliki yang berpen­dapat fardhu kifayah, Bahkan Imam Bukhari menjelaskan wajibnya, tetapi tidak sunnat menjenguk pada orang fasiq yang terang-terang fasiqnya, bahkan haram atau makruh sebab memang dilarang berhubungan baik dengan fasiq, juga makruh menjenguk ahli bid'ah, lebih-lebih apabila ia (dirinya) termasuk seorang alim, yang dapat menimbulkan salah sangka pada umum untuk mengikutinya (murid-pengikutnya), maka dalam hal ini haram.

Dan yang dimaksud dengan penyakit itu yang dapat menjadi udzur untuk meninggalkan sholat jum'at. Dan menjenguk saudara muslim sakit pada hari jum'at lebih afdhal dari lain-lainnya. Dan sunnat bagi orang yang menjenguknya menyenangkan hati orang yang sakit, dengan menyebut pahalanya penyakit, dan menganjurkan sabar, dan jangan sampai mengeluh dalam rintihannya, dan supaya banyak dzikir, kemudian minta doa dari orang yang sakit (saling mendoakan) karena hadits yang menyatakan bahwa do'a orang sakit itu sama dengan do'a Malaikat. 

Juga tersebut dalam hadits bahwa Nabi SAW jika menjenguk orang sakit bersabda : "Laa ba'sa thahurun insya Allah (Tidak apa, penyak'itmu menjadi penebus dosa, dan akan membersihkan kamu dari dosa-dosamu)."

Dalam hadits yang shahih, Nabi SAW ber­sabda, "Siapa yang membaca As'alu Allahal adhiem, rabbal arsyil adhiem an yasy fiyaka 7 x. (Saya mohon kepada Allah yang maha agung, yang mempunyai arsy yang besar, semoga menyembuhkan anda 7 x) untuk orang sakit yang belum tiba ajalnya, pasti Allah akan menyembuhkannya dari penyakitnya.

Bukhari, Muslim meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. bersabda :
"Tiada seorang mu'min yang ditimpa oleh lelah atau pe­nyakit, atau risau fikiran atau sedih hati, sampaipun jika terkena duri, melainkan semua penderitaan itu akan di­jadikan penebus dosanya oleh Allah. (HR Bukhari-Muslim)

Abu Dawud meriwayatkan Nabi s.a.w. bersabda : "Seorang mu'min jika sakit, kemudian sembuh, maka penyakit itu menjadi penebus dosanya, dan peringatan dalam menghadapi masa depannya, sebaliknya orang munafik jika sakit lain sembuh, maka ia bagaikan onta yang diikat kemudian dilepas oleh majikannya, ia tidak mengtahui mengapa diikat dan mengapa dilepas ". (HR Abu Dawud)

Bukhari meriwayatkan, Nabi s.a.w. bersabda : "Siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah padanya, maka diberinya bala' (ujian). 

Atthabarani meriwayatkan,Nabi s.a.w. bersabda : "Akan dihadapkan orang-orang yang mati syahid untuk dihisab, kemudian orang-orang ahli sedekah juga untuk dihisab (diadakan perhitungan amal) kemudian dihadapkan orang-orang ahli bala' (orang mukmi yang menerima bala', dan bagi mereka ini tidak ada timbangan amal atau hisab, sedangkan pahala dituangkan pada mereka ini sepuas-puasnya sehingga orang-orang yang sehat dan tidak menderita itu ingin andaikan mereka diguntingi badan mereka dengan gunting (yakni mereka akan rela) karena melihat betapa besar pahala Allah bagi orang yang menderita bala' itu". (HR Ath-Thabarani)

Atthabarani juga meriwayatkan, "Jika sakit seorang hamba hingga tiga hari, maka keluar dari dosa-dosanya sebagaimana keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya. (HR Ath-Thabarani)

Ibn Abid Dunya meriwayatkan, "Siapa yang dapat menyembunyikan sakit panasnya satu hari saja, maka Allah akan melepaskannya dari dosa-dosanya bagaikan keadaannya ketika baru lahir dari kandungan ibunya. Dan dicatat untuk bebas dari neraka, ditutupinya sebagaimana ia menutupi bala' Allah didunia (ya'ni bala' yang dideritanya ketika hidup di dunia)". (HR Abi Dunya) 

Ahmad dan Atthabarani meriwayatkan "Sesungguhnya penyakit pening kepala dan panas dalam itu selalu berjangkit pada seorang mu'min yang dosanya sebesar bukit uhud, maka tidak terhenti penderitaan itu sehingga tidak ada sisa dari dosa-dosanya itu walau seberat biji sawi". (HR Ahmad & Ath-Thabarni)

Alqadha'i meriwayatkan, "Penyakit panas itu menjaga tiap mu'min dari neraka, dan panas semalam cukup dapat menebus dosa setahun (HR Al-Qadha’i)

Ibn Majah meriwayatkan, "Penyakit panas (demam) itu alat peniup jahannam, maka jauhkan dari kamu dengan air -dingin. (HR Ibn Majah)

Ahmad, Attirmidzi, dan Annasa'i meriwayatkan," Siapa yang mati karena sakit perut (berak-berak/muntaber) tidak akan disiksa dalam kubur". (HR Ahmad, At-Tirmidzi & An-Nasa’i)

Juga tersebut dalam hadits sahih, "Siapa yang menderita mushibah (bala') pada diri dan hartanya, lalu disembunyikannya, dan tidak mengeluh pada orang-orang, maka ia berhak untuk diampunkan oleh Allah' ta'alla".

Abu Musa Al-asy'ari r.a. berkata : Aku putus dengan orang-orang yang diputus hubungan oleh Rasulullah SAW, karena sesungguhnya Rasulullah s.a.w. putus hubungan dengan orang-orang yang menjerit-jerit ketika kematian, dan yang mencukur rambut kepalanya, dan yang merobek-robek bajunya, ketika ditimpa mushibah. (H.R. Bukhari, Muslim).

Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata : Rasulullah s.a.w. ber­sabda, "Bukan dari ummatku orang-orang yang memukul-mukul; mukanya, dan merobek bajunya, dan mengeluh dengan kebiasaan jahiliyah. (ya'ni semua itu ketika menghadapi mushibah). (H.R. Bukhari, Muslim).

Alhakim dan Ibn Hibban meriwayatkan, "Tiga macam dari pada tanda kekafiran terhadap Allah; Merobek baju dan merintih (niyahah) dan menghina nasab orang (keturunan orang)".

Ibn Majah meriwayatkan, "Merintih itu termasuk kebiasaan jahiliyah, dan orang yang merintih, jika ia mati sebelum tobat, maka Allah akan memotongkan untuknya pakaian dari lantung dan kutang dari uap api neraka. (HR Ibn Majah)


Keterangan

Para ulama berbeda faham tentang pahala orang sakit, apakah karena penyakitnya atau karena sabarnya. Pendapat yang sesuai dengan hadits, yaitu jika sabar atas penyakit maka ia diberi pahala karena penyakit dan sabarnya, jika tidak sabar, maka tidak ada pahala sama sekali.

Izzuddin bin Abdussalam. ra berkata : Bala' mushibah itu, tidak mengandung pahala sebab ia bukan perbuatan hamba, dan pahalanya (dalam menerima bala' itu hanya didapat karena sabar. Tetapi penyakit itu dapat menebus dosa meskipun tidak sabar, sebab penebus dosa tidak disyaratkan harus usaha hamba tersebut yang diberi penyakit. Tetapi bagi yang menderita penyakit lalu ia bersabar maka ia mendapatkan keutamaan yang besar.